MAKALAH HUBUNGAN FAKTOR RIWAYAT ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING oleh Kel 5

 

HUBUNGAN FAKTOR RIWAYAT ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING

Dosen MK. Dasar Ilmu Gizi : DR. Intje Picauly 




                  NAMA KELOMPOK :  5  KELAS : IKM/D2

*      SARA APRILIA NATONIS                   ( 2007010206)

*      TRIVONIA ARUT                                   ( 2007010131 )

*      MURTIN ADE MARSULA ANONE    ( 2007010109 )

*      DORINE EVELYN TEMALURU         ( 2007010163 )

*      VIENELDA SERAN                               ( 2007010043 )



FAKULTAS KESEHATAN MASYATAKAT

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

2021

 



KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Tuhan atas segala rahmatNya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.  Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

Kupang, 2 Februari 2021

 

Tim/Kelompok 5


DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………… ii

ISI MAKALAH ………………………………………………………………………………... 1

A.      BATASAN ISTILAH MENURUT PAKAR ……………………………………………........1

1.1.Istilah/Pengertian Stunting ………………………………………..................…. 1

1.2.Istilah/Pengertian Asi Eksklusif ……………………………………...............… 1

1.3. Istilah/Pengertian Kepulauan Lahan Kering ……………………....................... 2

 

B.     RIVIEW HASIL PENELITIAN ………………………………………………………..  2

 

C.     PEMBAHASAN ……………………………………………………………………….  8

 

D.    DAFTAR PUSAKA …………………………………………………………………… 11



 A.  Batasan Istilah Menurut PAKAR

1.1.          Istilah/Pengertian Stunting

Berikut beberapa pengertian Stunting menurut para Ahli/Pakar:

§  Menurut WHO (2006) : Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

§  Menurut MCN (2009). Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah, dan keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya

§  Menurut Mitra (2015), Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growthfaltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari masa kehamilan sampai usia 24 bulan

§  Munurut Kemenkes RI (2018), Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growthfaltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari masa kehamilan sampai usia 24 bulan

§  Menurut UNICEF (2019) : Stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO

§  Menurut Millennium Challenge Account (2014), Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan zat gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

§  Menurut Keputusan Mentri Kesehatan  (2010), stunting adalah status gizi yang didasarkan pada indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U) dalam standar penilaian status gizi anak, dengan hasil pengukuran yang berada pada nilai standar atau Z-Score <-2 SD sampai dengan -3 SD untuk pendek (stunted) dan <-3 SD untuk sangat pendek (severely stunted).

 

1.2.          Istilah/Pengertian Asi Eksklusif

ASI merupakan makanan utama yang paling sempurna bagi bayi karena mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi untuk dapat bertahan hidup pada 6 bulan pertama, mulai dari hormon, antibodi, faktor kekebalan sampai antioksi dan ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan dalam waktu 6 bulan, tanpa memberikan makanan/minuman pendamping atau pengganti lain selain ASI seperti susu formula, jeruk, madu, air putih, air teh dan tanpa tambahan makanan padat “bubur nasi, bubur susu, biskuit dan lainnya”.

Beberapa beberapa pengertian ASI Eksklusif :

 

§  Menurut Widuri (2013), ASI Eksklusif adalah pemberian ASI dari ibu terhadap bayinya yang diberikan tanpa minuman atau makanan lainnya termasuk air putih atau vitamin tambahan lainnya

§  Menurut Nurkhasanah (2011), ASI Eksklusif adalah pemberian ASI pada bayi tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat, misalnya pisang, papaya, bubur susu, bicskuit, bubur nasi, tim atau makanan lain selain ASI

 

1.1.          Istilah/Pengertian Kepulauan Lahan Kering

Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah provinsi dengan proporsi luasan < 10% dari total luas lahan kering di Indonesia, lahan kering beriklim kering (LKIK) di NTT telah mampu berkontribusi dalam menghasilkan produk pangan utama.

§  Menurut Suwardji (2003), Lahan kering adalah hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasi

§  Definisi yang diberikan oleh soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun

§  Menurut Simposium Nasional tentang Lahan Kering di Malang (1991) penggunaan lahan untuk lahan kering berturut adalah sebagai berikut: hutan rakyat, perkebunan, tegalan, tanah yang sedang tidak diusahakan, ladang dan padang rumput

 

 

B.   Riview Hasil Penelitian

2.1.  Beberapa Riview Jurnal Hasil Penelitian Terdahulu

§  Anastasia T Astuti, Utama Asparia& Lewi Jutomo, 2013. Kajian Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang ASI dan Pola Laktasi pada Bayi di Kelurahan Sikumana. Hasil yang di peroleh: Hasil pengamatan karakteristik ibu menunjukkan bahwa 82,35% ibu usia 20-35 tahun, 61,76% berpendidikan ≥ 9 usia, 77,94% ibu rumah tangga, 64,71% memiliki pengetahuan cukup tentang menyusui. Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/83

§  Intje Picauly, Sarah Lery Mboeik, Theresia Sri Lendes, & Sherly Hayer , 2020. Pendampingan Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil yang di peroleh: rendahnya pemahaman Aparatur Sipil Negara (ASN) tentang stunting dan fungsi konvergensi serta pelaksanaan lintas stakeholder yang masih buruk. Sumber: http://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/68

§  Gustaf Oematan &  Utama Aspatria, 2013. Faktor-faktor penentu kejadian Gizi buruk Stunting di Daerah Dengan Karakteristik Pertanian Lahan Kering Kabupaten Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasi yang di peroleh: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sembilan faktor penduga kejadian gizi buruk, ternyata 5 faktor diantaranya merupakan penentu kejadian gizi buruk di Desa Hueknutu pada taraf signifikansi 10% yaitu kesinambungan ketersediaan pangan rumah tangga (OR = 23,9 ), riwayat lahir BBLR (OR = 7,8), riwayat sakit (OR = 4,5), menyusui sampai 2 tahun (OR = 4,4), dan tingkat pengetahuan gizi ibu (OR = 4,2). Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/88

§  Demsi S. Dalle, Ribka Limbu, & Daniela L.A Boeky, 2019/2020. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu oleh Ibu di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Takari Tahun 2019/2020. Hasil yang di peroleh: Hasil penelitian mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian MP-ASI  Oleh Ibu Di Wilayah Kerja Puskesmas Takari Tahun 2019. Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/74

§  Theresia Noviayanti But, Intje Picauly &Rut Rosina Riwu, 2020. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pola Konsumsi Pangan Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Oepoi Kota Kupang. Hasil yang di Peroleh: bahwa variabel pengetahuan gizi ibu (pValue : 0.004 < 0.05),Tingkat pendapatan keluarga (pValue : 0.000<0.05), dan jumlah anggota keluarga (pValue : 0.000<0.05) berhubungan dengan pola konsumsi pangan balita di Wilayah Kerja Puskesmas Oepoi. Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/75

§  Sitti Ratna Sari, Anna H. Talahatu, dan Amelya B.Sir. Hubungan Faktor Internal dengan Pemberian MP-ASI Dini Pada Bayi Usia 0-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Tarus Tahun 2018/2019. Hasil yang di Peroleh: menunjukkan bahwa terdapat hubungan faktor internal yang meliputi pendidikan (ρ value = 0,002), pengetahuan (ρ value = 0,005), dan pendapatan keluarga (ρ value = 0,035) dengan pemberian MP-ASI dini sedangkan faktor internal yang meliputi usia (ρ value = 0,547), pekerjaan (ρ value = 0,570), dan status gizi ibu (ρ value = 1,000) tidak berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini. Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/19

§  Nomavindel Leu Tatuin, Honey L Ndoen, Maria M.D. Wahyuni, 2019. Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Tingkat Pendidikan dengan Pola Konsumsi Makanan Ibu Nifas di Wilayah Kerja Puskesmas Alak Kota Kupang. Hasil yang di Peroleh: bahwa variabel yang berhubungan dengan pola konsumsi makanan ibu nifas adalah pengetahuan gizi (p = 0,001, r = 0,417), sikap ibu (p = 0,000, r = 0,445), dan variabel yang tidak berhubungan dengan konsumsi makanan ibu nifas. pola adalah tingkat pendidikan (p = 0,085). Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/50

§  R.B Purba*, Nova H. Kapantow, 2014. Hubungan antara Riwayat Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kawangkoan Kabupaten Minahasa. Hasil yang di Peroleh: bahwa tidak ada hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada batita di wilayah kerja Puskesmas Kawangkoan, dengan nilai OR 2,057. Sumber:https://www.google.nl/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2014/11/Winny Artikel.pdf&ved=2ahUKEwig7fmmqMvuAhX0zzgGHXO6CCUQFjABegQIBRAC&usg=AOvVaw1wToVZlPKjfBRGaZDejVPA

§  Leila siti chairani, Merry maeta sari, Andreanda nasution, Tika noor prastia. Gambaran Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Umur 24-6- Bulan di Kelurahan Tanah Baru Bogor Tahun 2018. Hasil yang di Peroleh: Dari hasil penelitian didapatkan, sebanyak 68,5% balita umur 24 – 60 bulan di Kelurahan Tanah Baru tahun 2018 tidak mendapatkan ASI ekslusif . Distribusi Frekuensi Gambaran Kejadian Stunting pada Balita Umur 24-60 Bulan di Kelurahan Tanah Baru Tahun 2018, Dari hasil penelitian didapatkan, sebanyak 33,7% balita umur 24-60 bulan di Kelurahan Tanah Baru tahun 2018 mengalami stunting yang berarti sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat (>20%). Sumber: https://www.google.nl/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://ejournal.uika-bogor.ac.id/index.php/PROMOTOR/article/download/1797/1239&ved=2ahUKEwjv9ZKDqcvuAhXpzTgGHb0hDOMQFjACegQIAhAF&usg=AOvVaw07ROGY8GlINnIwHb827duc

§  St. Anita Sanpe, SjMj, Rindani Claurita Toban & Monica Anung Madi, 2020. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting Pada Belita. Hasil yang di Peroleh: Hasil Penelitian menunjukan balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif dan mengalami stunting sebanyak 66 (91,7%) responden. Sumber: https://sg.docworkspace.com/d/sIHHboLlU97TlgAY

 

C.   Pembahasan

Stunting merupakan kondisi kronis yang menggambarkan terhambatnya pertumbuhan karena malnutrisi jangka panjang. Rendahnya asupan gizi pada bayi lahir normal juga berkontribusi terhadap stunting. Satusatunya makanan yang sesuai dengan keadaan saluran pencernaan bayi dan memenuhi kebutuhan selama 6 bulan pertama adalah ASI. ASI yang kurang dari 6 bulan dapat meningkatkan risiko stunting pada anak.

Oleh karena itu pentingnya ASI eksklusif bagi pertumbuhan anak.

Pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan dengan cara yang benar sangat penting untuk mencegah terjadinya gizi buruk, atau lebih parah lagi dalam jangka panjang tanpa penanganan yang tepat dapat menyebabkan Stunting . Stunting  menyebabkan tingkat kecerdasan yang kurang, rentan terhadap penyakit, dimasa depan menurunkan tingkat produktivitas, secara luas dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan

Kualitas  dan  kuantitas  ASI  yang  diberikan  kepada  bayi  bergantung  juga  pada  pola laktasi  atau  pola  pemberian  ASI  yang  dilakukan  oleh  ibu.  Pola  laktasi  memberikan pengaruh biologik dan psikologik tidak hanya untuk bayi tetapi juga untuk ibunya. Faktor pengetahuan  ibu  tentang  ASI  turut  menentukan  penerapan  pola  laktasi  yang  benar. Dengan mengetahui stimulus kesehatan tentang pengertian ASI dan melakukan penilaian terhadap pengetahuan maka akan timbul perilaku penerapan pola laktasi oleh ibu

 

 

B.                    D. Daftar Pustaka

Anastasia T Astuti, Utama Asparia& Lewi Jutomo, 2013. Kajian Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang ASI dan Pola Laktasi pada Bayi di Kelurahan Sikumana. Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/83

Intje Picauly, Sarah Lery Mboeik, Theresia Sri Lendes, & Sherly Hayer , 2020. Pendampingan Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Manggarai Barat,Propinsi Nusa Tenggara Timur.Sumber: http://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/68

Gustaf Oematan &  Utama Aspatria, 2013. Faktor-faktor penentu kejadian Gizi buruk Stunting di Daerah Dengan Karakteristik Pertanian Lahan Kering Kabupaten Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur. Sumber:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/88

Demsi S. Dalle, Ribka Limbu, & Daniela L.A Boeky, 2019/2020. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu oleh Ibu di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Takari Tahun 2019/2020.

Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/74

Theresia Noviayanti But, Intje Picauly &Rut Rosina Riwu, 2020. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pola Konsumsi Pangan Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Oepoi Kota Kupang.  Sumber:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/75

Sitti Ratna Sari, Anna H. Talahatu, dan Amelya B.Sir. Hubungan Faktor Internal dengan Pemberian MP-ASI Dini Pada Bayi Usia 0-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Tarus Tahun 2018/2019. Sumber:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/19

Nomavindel Leu Tatuin, Honey L Ndoen, Maria M.D. Wahyuni, 2019. Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Tingkat Pendidikan dengan Pola Konsumsi Makanan Ibu Nifas di Wilayah Kerja Puskesmas Alak Kota Kupang. Sumber:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/50

R.B Purba*, Nova H. Kapantow, 2014. Hubungan antara Riwayat Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kawangkoan Kabupaten Minahasa.  Sumber:https://www.google.nl/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2014/11/Winny-Artikel.pdf&ved=2ahUKEwig7fmmqMvuAhX0zzgGHXO6CCUQFjABegQIBRAC&usg=AOvVaw1wToVZlPKjfBRGaZDejVPA

Leila siti chairani, Merry maeta sari, Andreanda nasution, Tika noor prastia. Gambaran Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Umur 24-6- Bulan di Kelurahan Tanah Baru Bogor Tahun 2018. Sumber: https://www.google.nl/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://ejournal.uika-bogor.ac.id/index.php/PROMOTOR/article/download/1797/1239&ved=2ahUKEwjv9ZKDqcvuAhXpzTgGHb0hDOMQFjACegQIAhAF&usg=AOvVaw07ROGY8GlINnIwHb827duc

St. Anita Sanpe, SjMj, Rindani Claurita Toban & Monica Anung Madi, 2020. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting Pada Belita. Sumber: https://sg.docworkspace.com/d/sIHHboLlU97TlgAY

§  https://sg.docworkspace.com/d/sIMHboLlUl7nlgAY

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALA HUBUNGAN FAKTOR PENDIDIKAN NORMAL DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING oleh Kelompok 1

HUBUNGAN FAKTOR RIWAYAT ATAU KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING oleh kel 11

Makalah Hubungan Faktor Budaya Makan (Pantangan makanan) dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kepulauan Lahan Kering oleh Kel 9