Makalah Hubungan Faktor Budaya Makan (Pantangan makanan) dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kepulauan Lahan Kering oleh Kel 9
Hubungan Faktor Budaya Makan (Pantangan
makanan) dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kepulauan Lahan Kering
Dosen MK. Dasar Ilmu Gizi : DR. Intje
Picauly, S.Pi.,M.Si
1. Arwadi
Misam Sellan (2007010060)
2. Riri
Anggrainy Lisnat Bakuama (2007010120)
3. Renzi
Riani Simanungkalit (2007010119)
4. Veronika
Mura Atu (2007010042)
5. Maria
Evatania Wulu
(2007010188)
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
karuniaanya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “
Hubungan Factor Budaya Makan (Pantangan Makan) Dengan Kejadian Stunting Di
Wilayah Kepulauan Lahan Kering”
dengan lancar dan tepat waktu.
Penyususnan
makalah ini dalam rangka memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Dasar Ilmu Gizi
yang diampu oleh Ibu Intje Peculay. Penulis juga berharap agar makalah ini
dapat menambah pengetauhuan dan wawasan bagi para pembaca terutama anggota
kelompok 9, tentang determinan stunting di wilayah lahan kering kepulauan. Penulis menyadari bahwa banyak terdapat
kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka penulis harap kritik dan saran
yang konstruktif dan membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Kupang, 1 Februari 2021
DAFTAR ISI
|
Kata
Pengantar Daftar Isi A.Batasan Istilah Menurut Pakar 1.1 Istilah/ Pengertian Stunting 1.2 Pengertian
Faktor Budaya Makan (Pantangan Makan) 1.3 Kepulauan Lahan Kering B. Review Jurnal Hasil Penelitian Terdahulu C. Pembahasan D.
Daftar Pustaka |
Istilah Menurut PAKAR atau AHLI
1.1
Istilah/Pengertian
Stunting
Berikut beberapa definisi dan pengertian Stunting menurut
para Ahli/Pakar :
§ Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1995/MENKES/SK/XII/ 2010 tentang
Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, menyebutkan bahwa stunting
adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur
(PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah
stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek).
§ Menurut UNICEF Stunting
didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan
tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting
kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO (Hoffman
et al, 2000; Bloem et al, 2013)
§ Bloem
(2013) penyebab terjadinya stunting adalah malnutrisi yang menyangkut berbagai
aspek yaitu asupan gizi tidak adekuat, kesulitas akses terhadap pangan yang
sehat, kurangnya perhatian dan fasilitas kesehatan bagi ibu dan anak, kurangnya
pengetahuan, sampai pada aspek social, ekonomi dan politik sebagai aspek-aspek
mendasar.
1.2. Pengertian Faktor Budaya Makan (Pantangan Makan)
ü Marsetya
& Kartasapoetra (2002), Pantang makanan adalah bahan makanan atau masakan
yang tidak boleh dimakan oleh para individu dalam masyarakat karena alasan yang
bersifat budaya.
ü Surasih
(2006), yang mengemukakan bahwa pantang makanan bukan merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi keadan Kurang Energi Kronis pada ibu hamil, karena
jenis makanan yang di pantang tidak mengandung zat gizi tinggi yang dapat
mempengaruhi status gizi pada ibu hamil. Jadi meskipun berpantang makanan, ibu
hamil masih berstatus gizi baik.
1.3. Pengertian
Kepulauan Lahan Kering
ü Suwardji
(2003), Pengertian Kepulauan Lahan Kering adalah hamparan lahan yang
didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman
dengan sumber air berupa hujan atau air. Dan Soil Survey Staffs (1998) dalam
Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang
air beberapa periode.
2. Lina Nurbaiti, Annis Catur Adi, Shirmarti R. Devi, Timbuktu Hartana. 2014. Kebiasaan makan balita stunting pada masyarakat Suku Sasak: Tinjauan 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Hasil yang diperoleh : Stunting merupakan keadaan yang ditimbulkan akibat kekurangan nutrisi (malnutrisi). Kejadian malnutrisi tidak hanya disebabkan kekurangan zat gizi makro, tetapi juga kekurangan zat gizi mikro. Keadaan ini dapat terlihat ketika anak memasuki umur 2 tahun, ciri fisik tinggi badannya terlihat lebih pedek dari anak seumurannya. Sumber https://e-journal.unair.ac.id/MKP/article/view/2456
3. Rizki Kurnia Illahi, Lailatul Muniroh. 2016. Gambaran Sosio Budaya Gizi Etnik Madura Dan Kejadian Stunting Balita Usia 24–59 Bulan Di Bangkalan. Hasil yang diperoleh : asupan protein ibu di masa kehamilan berpengaruh signifi kan terhadap status gizi pendek balita. Gangguan gizi selama kehamilan dapat mengakibatkan bayi prematur, dan berat badan lahir rendah. Sumber : /7446-23405-2-PB.pdf
4. Intje Picauly, Sarah Lery Mboeik, Theresia Sri Lendes, dan Sherly Hayer. 2020. Pendampingan Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Di Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil yang diperoleh : Tingkat Pendidikan sangat berpengaruh pola perumusan program kegiatan dalam penanggulangan Stunting di Kabupaten Manggarai Barat. Sumber : https:// pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/68
5. Dewa nyoman supariasa ‘Heni purwanengsih. 2019. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita kabupaten malang. Hasil yang diperoleh : Pelayanan kesehatan ibu balita stunting selama kehamilan meliputi pemberian tablet tambah darah sebesar 98% tetapi berdasarkan hasil wawancara sebagian besar tidak dikonsumsi. Alasan tidak mengkonsumsi antara lain terdapat rasa mual, dianggap tidak penting dan lupa mengkonsumsi. Sumber https://ejurnal.malangkab.go.id/index.php/kr/issue/view/3
6. Aisyah Susanti, Rusnoto , Nor Asiyah. 2013. Budaya Pantang makan, Status ekonomi, dan Pengetahuan Zat Gizi Pada Ibu Hamil Trimester III Dengan Status gizi. Hasil yang diperoleh : Status gizi pada ibu hamil trimester III sebagian besar termasuk kategori baik. Terdapat hubungan antara budaya pantang makan, namun tidak ada hubungan antara status ekonomi dan pengetahuan zat gizi ibu hamil dengan status gizi pada ibu hamil trimester III. Sumber :https://core.ac.uk/download/pdf/235014662.pdf
7. Liestiana Indriyati,, Juhairiyah, Budi Hairani, Deni Fakhrizal. 2018. Gambaran Kasus Stunting Pada 10 Desa Di Kabupaten Tanah Bumbu. Hasil yang diperoleh : Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita (bawah lima tahun)akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan giziterjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, akan tetapi kondisistunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Sumber https://jkpjournal.kalselprov.go.id/index.php/menu/article/view/57/84
8. Intje Picauly dan Sarci Magdalena Toy. 2013. Analisis Determinan dan Pengaruh Stunting Terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah di Kupang dan Sumba Timur NTT. Hasil yang diperoleh : Determinan kejadian Stunting adalah pendapatan keluarga, pengetahuan gizi ibu, pola asuh ibu, riwayat infeksi penyakit, riwayat imunisasi, asupan protein, dan pendidikan ibu. Faktor risiko kejadian stunting yakni pendapatan keluarga, ibu bekerja, pengetahuan gizi dan pola asuh ibu, memiliki riwayat infeksi penyakit, tidak memiliki riwayat i-munisasi yang lengkap, dan asupan protein rendah. Sedangkan pendidikan ibu rendah merupakan faktor protektif kejadian stuntingTerdapat indikasi stunting berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.
9. Delmi Sulastri. 2012. Faktor Determinan Kejadian Stunting Pada Anak Usia Sekolah Di Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang. Hasil yang diperoleh : Hasil penelitian ini menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi ( p < 0,05), dimana anak pendek lebih banyak terjadi pada ibu yang berpendidikanrendah. Sumber : http://jurnalmka.fk.unand.ac.id/index. Php /art/article/view/111
10. Gustaf Oematan dan Utma Aspatria.2013. Faktor – Faktor Penentu Kejadian Gizi Buruk Stunting Di Daerah Dengan Karakteristik Pertanian Lahan Kering Kabupaten Kupang , Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil yang diperoleh : Kasus stunting pada balita di Desa Hueknutu sebagai daerah yang mewakili dengan karakteristik pertanian lahan kering masih sangat tinggi disebabkan karena konsumsi makanan sumber protein sangat terbatas dan jenis pangan sumber protein yang umumnya dikonsumsi adalah kacang-kacangan yang diperoleh dari hasil usahatani sendiri, seperti: kacang tunggak, kacang gude, dan kacang tanah. Konsumsi pangan sumber protein hewani sangat jarang. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/88/80
A.
PEMBAHASAN
Pantang makanan
adalah bahan makanan atau masakan yang tidak boleh dimakan oleh para individu
dalam masyarakat karena alasan yang bersifat budaya (Marsetya &
Kartasapoetra, 2002:11). Surasih (2006),
yang mengemukakan bahwa pantang makanan bukan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi keadan Kurang Energi Kronis pada ibu hamil, karena jenis makanan
yang di pantang tidak mengandung zat gizi tinggi yang dapat mempengaruhi status
gizi pada ibu hamil. Jadi meskipun berpantang makanan, ibu hamil masih berstatus
gizi baik. Rahmaniar (2011) Penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan
dengan kekurangan energi kronis pada ibu hamil pernah dilakukan oleh dengan
hasil bahwa pada faktor pantang makanan adanya hubungan dengan kejadian Kurang
Energi Kronis (KEK).
Menurut
Kristiyanasari, (2010:65-66), menjelaskan bahwa dampak komplikasi kekurangan
gizi pada ibu hamil diantaranya adalah kurang energi kronis, anemia,
pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, terkena penyakit
infeksi. persalinan sebelum waktunya (premature), pendarahan setelah
persalinan, abortus, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi,
asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir
rendah (BBLR).
Kepulauan lahan
kering sebutan untuk kawasan atau daerah yang memiliki jumlah evaporasi
potensial melebihi jumlah curah hujan actual atau daerah yang jumlah curah
hujannya tidak mencukupi untuk usaha pertanian tanpa irigasi.dan juga adalah
hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik permanen maupun
musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasiKepulauan lahan kering
sebutan untuk kawasan atau daerah yang memiliki jumlah evaporasi potensial
melebihi jumlah curah hujan actual atau daerah yang jumlah curah hujannya tidak
mencukupi untuk usaha pertanian tanpa irigasi.dan juga adalah hamparan lahan
yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik permanen maupun musiman dengan
sumber air berupa hujan atau air irigasi. Beberapa pola pantang makanan hanya
dianut oleh suatu golongan masyarakat atau oleh bagian yang lebih besar dari
penduduk. Pola lain hanya berlaku untuk kelompok dalam suatu penduduk tertentu
dan pada waktu tertentu. Bila pola pantangan berlaku bagi seluruh penduduk dan
sepanjang hidupnya, kekurangan zat gizi cenderung tidak akan berkembang seperti
jika pantangan itu hanya berlaku bagi sekelompok masyarakat tertentu selama
satu tahap dalam siklusnya.
Upaya yang perlu
dilakukan oleh petugas kesehatan untuk menanggulangi kejadian berpantang
makanan adalah dengan memberikan pengertian serta penyuluhan dengan
sebaik-baiknya, bahwa berpantang makanan yang mengandung gizi adalah dapat
menyebabkan gizi ibu hamil terganggu. Perbaikan gizi untuk ibu hamil dengan KEK
adalah dengan memperbanyak konsumsi jenis makanan yang mengandung karbohidrat
seperti nasi, mie dan kentang, Yang mengandung protein.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan Asriningtyas (2010) dan Surasih (2006), yang mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berpengaruh dengan status gizi pada ibu hamil. Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan dikonsumsi sehari-hari. Maka seseorang dengan ekonomi yang tinggi maka kemungkinan besar gizi yang dibutuhkan akan tercukupi serta adanya pemeriksaan kehamilan membuat gizi ibu semakin terpantau. Hasil penelitian ini adalah sebagian besar mempunyai pendapatan sesuai UMK dan mempunyai gizi baik. Akan tetapi responden yang mempunyai pendapatan tidak sesuai dengan UMK juga mempunyai gizi yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Rr
Listyawati Nurina, Rahel Rara Woda, Christina Olly Lada, Ika Febianti Buntoro.
2020. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Orang Tua Tentang Manfaat Daun Kelor
Dengan Status Gizi Keluarga Pada Wilayah Lahan Kering Kepulauan Semiringkai. Sumber : ./ 2670-Article
Text-5847-1-10-20200921.pdf
Lina
Nurbaiti, Annis Catur Adi, Shirmarti R. Devi, Timbuktu Hartana. 2014. Kebiasaan
makan balita stunting pada masyarakat Suku Sasak: Tinjauan 1000 hari pertama
kehidupan (HPK). Sumber https://e-journal.unair.ac.id/MKP/article/view/2456
Rizki
Kurnia Illahi, Lailatul Muniroh. 2016. Gambaran Sosio Budaya Gizi Etnik Madura
Dan Kejadian Stunting Balita Usia 24–59 Bulan Di Bangkalan. Sumber : /7446-23405-2-PB.pdf
Intje Picauly, Sarah Lery Mboeik,
Theresia Sri Lendes, dan Sherly Hayer. 2020. Pendampingan Aksi
Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Di Kabupaten Manggarai Barat,
Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sumber
: https://
pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/68
Dewa
nyoman supariasa ‘Heni purwanengsih. 2019. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kejadian stunting pada balita kabupaten malang. Sumber https://ejurnal.malangkab.go.id/index.php/kr/issue/view/3
Aisyah
Susanti, Rusnoto , Nor Asiyah. 2013. Budaya Pantang
makan, Status ekonomi, dan Pengetahuan Zat Gizi Pada Ibu Hamil Trimester III
Dengan Status gizi. Sumber :https://core.ac.uk/download/pdf/235014662.pdf
Liestiana Indriyati,, Juhairiyah,
Budi Hairani, Deni Fakhrizal. 2018. Gambaran Kasus Stunting Pada 10 Desa Di Kabupaten Tanah Bumbu. Sumber https://jkpjournal.kalselprov.go.id/index.php/menu/article/view/57/84
Intje
Picauly dan Sarci Magdalena Toy. 2013. Analisis Determinan dan Pengaruh
Stunting Terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah di Kupang dan Sumba Timur NTT. Sumber https://core.ac.uk/download/pdf/189016779.pdf
Delmi
Sulastri. 2012. Faktor Determinan Kejadian
Stunting Pada Anak
Usia Sekolah Di Kecamatan Lubuk
Kilangan Kota Padang. Sumber : http://jurnalmka.fk.unand.ac.id/index.
Php /art/article/view/111
Gustaf
Oematan dan Utma Aspatria.2013. Faktor – Faktor Penentu Kejadian Gizi Buruk
Stunting Di Daerah Dengan Karakteristik Pertanian Lahan Kering Kabupaten Kupang
, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/88/80

Komentar
Posting Komentar