MAKALAH HUBUNGAN FAKTOR JENIS PEKERJAAN DAN ALOKASI WAKTU IRT di RUMAH dengan KEJADIAN STUNTING di WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING oleh Kel 6

 

HUBUNGAN FAKTOR JENIS PEKERJAAN DAN ALOKASI WAKTU IRT di RUMAH dengan KEJADIAN STUNTING di WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING


Dosen MK Dasar Ilmu Gizi Kesmas : DR. Intje Picauly



Kelompok 6 :

1.    Westi Wira Pong Mestuni         (2007010044)

2.    Maria Mersiani Nandi                (2007010190)

3.    Nadine Sarlota Manafe              (2007010037)

4.    Priska Marsela Bella                  (2007010038)

5.    Maria Elvira Kurniaty              (2007010186)



PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG 2021 


 


KATA PENGANTAR

 

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah “ HUBUNGAN FAKTOR JENIS PEKERJAAN dan ALOKASI WAKTU IRT di RUMAH dengan KEJADIAN STUNTING di WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING” sesuai denganbatas waktu yang ditentukan.

Namun, makalah ini jauh dari kesempurnaan sehingga kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan utuk menyempurnakan makalah ini. Harapan kami, semoga makalah ini bermanfaat untuk kita.

 

 

                                                                  Kupang, 4 Februari 2021

Penulis

Tim Kelompok 6 

 


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

A.   Batasan Istilah Menurut Para Ahli 1

1.1.Istilah Atau Pengertian Stunting. 1

1.2. Istilah Atau Pengertian Pekerjaan Dan Alokasi Waktu IRT................................2

1.3.Istilah Atau Pengertian Kepulauan Lahan Kering. 2

B.    Review Jurnal Hasil Penelitian terdahulu. 3

C.   PEMBAHASAN.. 5

DAFTAR PUSTAKA


. A. Batasan Istilah Menurut Para Ahlli

1.1.Istilah atau pengertian stunting

           Stunting merupakan gangguan pertumbuhan fisik yang ditandai dengan penurunan kecepatan pertumbuhan dan merupakan dampak dari ketidakseimbangan gizi.2 Menurut World Health Organization (WHO) Child Growth Standart, stunting didasarkan pada indeks panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) dengan batas (z-score) kurang dari -2 SD.

Pengertian stunting menurut para ahli :

a.       Menurut Trihono dkk (2015), Stunting adalah status gizi yang didasarkan pada indeks BB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai dengan -3 SD (pendek/stunted) dan <-3 SD (sangat pendek/severely stunted). 

b.      Menurut Millennium Challenge Account (2014), stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan zat gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

c.       Menurut WHO (2006), Stunting adalah gangguan pertumbuhan ditinjau berdasarkan parameter antropometri tinggi badan menurut umur merupakan bagian dari kekurangan gizi maupun infeksi kronis yang ditunjukkan dengan z-score <-2 standar deviasi. 

d.      Menurut UNICEF (2013), Stunting adalah indicator status gizi TB/U sama dengan atau kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) di bawah rata-rata standar atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seumurnya, ini merupakan indikator kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi lingkungan dan sosial ekonomi. 

e.       Menurut Kemenkes RI (2016), Stunting adalah status gizi yang didasarkan pada parameter Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), hasil pengukuran antropometri berdasarkan parameter tersebut dibandingkan dengan standar baku WHO untuk menentukan anak tergolong pendek (<-2 SD) atau sangat pendek (<-3 SD).

 

1.2.Istilah atau pengertian pekerjaan dan alokasi waktu

a.      Pengertian pekerjaan menurut para ahli

a.      Menurut Wiltshire (2016) pekerjaan merupakan satu rangkaian keterampilan dan kompetensi tertentu yang harus selalu ditingkatkan dari waktu ke waktu atau cara untuk mempertahankan kedudukan dari pada sekedar mencari nafkah. 

b.      Menurut Yaktiningsasi (1994) pekerjaan merupakan sesuatu yang menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi orang lain, dan dalam pelaksanaannya mereka harus berafiliasi dengan organisasi kerja yang formal.

c.       Menurut Depkes RI (2001) pekerjaan adalah sesuatu yang dikerjakan untuk mendapatkan nafkah atau pencaharian masyarakat yang sibuk dengan kegiatan atau pekerjaan sehari-hari akan memiliki waktu yang lebih untuk memperoleh informasi.

d.      Menurut Notoatmodjo (2012) Pengertian  Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk tujuan tertentu yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar

b.   Pengertian alokasi waktu

ü Menurut KBBI (2016) alokasi waktu adalah durasi waktu yang diperuntukan bagi acara atau kegiatan tertentu.

1.3     Istilah atau pengertian kepulauan lahan kering

ü  Tejoyuwono (1989) dalam Suwardji (2003) menyebutkan bahwa Lahan kering adalah kawasan atau daerah yang memiliki jumlah evaporasi potensial melebihi jumlah curah hujan actual atau daerah yang jumlah curah hujannya tidak mencukupi untuk usaha pertanian tanpa irigasi.Selain itu lahan kering juga adalah  hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasi (Suwardji, 2003)).

ü  Definisi yang diberikan oleh Soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun.

ü   

B. Review Jurnal Hasil Penelitian terdahulu

Beberapa hasil penelitian terkait yang telah dilakukan sebelumnya adalah :

1.      Intje Picaulydan Sarci Magdalena Toy.2013. Analisis Determinan Dan Pengaruh Stunting Terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah Di Kupang Dan Sumba Timur, NTT. Hasil yang diperoleh: Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa ibu yang bekerja memiliki peluang anaknya mengalami stunting lebih besar dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Hal ini berarti bahwa jika ibu bekerja maka akan diikuti dengan peningkatan kejadian stunting sebesar 3.623. Berg (1986) mengatakan bahwa ibu-ibu yang bekerja tidak mempunyai cukup waktu untuk memperhatikan makanan anak yang sesuai dengan kebutuhan dan kecukupan serta kurang perhatian dan pengasuhan kepada anak.Sumber:http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/7254

2.      Gustaf Oematan dan Utma Aspatria.2013. faktor-faktor penentu kejadian gizi buruk stunting di daerah dengan karakteristik pertanian lahan kering  kabupaten kupang , provinsi Nusa Tenggara Timur.Hasil yang diperoleh : Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis pekerjaan sangat menetukan determinan Stunting di mana Peluang   resiko   terjadinya   stunting   pada rumahtangga  yang  ketersediaan  pangannya  rendah  lebih  tinggi  23,9  kali  dibandingkan dengan  rumah tangga  yang  memiliki  ketersediaan  pangan  tinggi.

Sumber:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/88/80

3.      Marselinus Laga Nur,  dan Lewi Jutomo.2020.Deteksi Dini Stunting Pada Jemaat Gmim Kapernaum Tenau.Hasil yang diperoleh : Hasil penelitian menunjukan bahwa Faktor-faktor  risiko  yang  mempengaruhi  kejadian  stunting  adalah,  karakteristik  keluarga (pendidikan  ibu  dan  pekerjaan  ibu).

Sumber:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/73/67

4.      Intje Picauly. 2009. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu Balita dengan Kebiasaan Konsumsi Sayur Balita Pada Kelompok  Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja. Hasil yang diperoleh : Ada hubungan antara Tingkat Pendidikan Ibu Balita dengan KebiasaanKonsumsi Sayur Balita Pada Kelompok  Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/25

5.      Intje Picauly, Sarah Lery Mboeik, Theresia Sri Lendes, dan Sherly Hayer.2020.Pendampingan Aksi KonvergensiPercepatan Penurunan StuntingDi Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur.Hasil penelitian yang diperoleh : Kabupaten Manggarai Baratmerupakan salah satu wilayah yang mempunyai prevalensi Stunting yang cukup tinggi (19,1%)dengan jumlah anak stunting (pendek dan sangat pendek) sebanyak 4.040 jiwa. Berdasarkanriview kinerja oleh Tim Pokja Stunting Propinsi NTT diketahui bahwa kinerja KabupatenManggarai Barat masih sangat rendah.

Sumber:https:// pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/68

6.      Demsi S,Dalle,Ribka Limbu,Daniela L.A.Boeky.2019. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan pendamping air susu ibu oleh ibu di wilayah kerja pusat kesehata masyarakat Takari tahun 2019.Hasil yang diperoleh:hasil penelitian menemukakan bahwa ada hubungan antara pekerjaan dengan tindakan pemberian MP-ASI sebagai pemenuhan gizi hal ini karena. Ibu yang memiliki pekerjaan di luar rumah cenderung lebih memilih melakukan pekerjaanya dan kurang memperhatikan anaknya dalam hal prmberian MP-ASI.Sumber:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/74

7.      Arie Nugroho.2016. Determinan Growth Failure (Stunting) pada Anak Umur 1 S/D 3 Tahun (Studi di Kecamatan Tanjungkarang Barat Kota Bandar Lampung).Hasil yang di peroleh :Hasil penelitian menunjukkan bahwa alokasi waktu asuh bukan merupakan faktor determinan.

Sumber:https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/231

8.      Theresia Noviayanti Bur,Itjen Picauly dan Rut Rosina Riwu.2020.Faktor-Faktor yang berhubungan dengan pola Konsumsi Pangan Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Oepoi Kota Kupang. Hasil yang diperoleh: menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pola konsumsi pangan balita,Ibu yang tidak bekerja dalam keluarga dapat mempengaruhi asupan gizi balita karena ibu berperan sebagai pengasuh dan pengatur konsumsi makanan anggota keluarga.

Sumber:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/75/69

9.      Suharmianti Mentari, Agus Hermansyah.2018.Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Status Stunting Anak Usia 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja Upk Puskesmas Siantan Hulu.Hasil yang didapat : Dari hasil penelitian tidak ada Hubungan antara status      pekerjaan ibu terhadap status stunting anak usia 24-59 bulan di Wilayah Kerja UPK      Puskesmas Siantan.Hal ini sejalan dengan analisis yang  diperolehbahwa status           tidakstunting lebih banyak terjadi pada anak dengan ibu yang bekerja. Halini disebabkan oleh faktor ekonomi karena ibu yang bekerja dapat membantu pendapatan            keluarga.Pendapatan keluargayang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karenaorang tua dapat menyediakan semua kebutuhan dasar anak.

Sumber:http://ejurnal.poltekkes-pontianak.ac.id/index.php/PNJ/article/view/275/179

10.  Nurus Zahrotun Nisak.2018. Hubungan pekerjaan dan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita desa duwet kecamatan wonosari kabupaten klaten.Hasil  yang diperoleh: menunjukan bahwa Terdapat hubungan antara pekerjaan ibu dengan status           gizi balit Terdapat hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita berdasarkan tinggi badan menurut umur di Desa Duwet Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten (p=0,039).Terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita berdasarkan tinggi badan menurut umur di Desa Duwet Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten (p=0,005).

Sumber:http://eprints.ums.ac.id/68587/12/naskah%20publikasi%20Nuruz.pdf


C.    PEMBAHASAN

                       Anak balita usia 1-5 tahun adalah masa yang sangat berharga di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Anak usia balita masih menjadi konsumen pasif yang sangat tergantung pada orang tua. Mereka menerima semua jenis makanan yang disajikan oleh orang tuanya, sehingga orang tua harus menjaga asupan makan mulai dari menentukan jenis makanan, dan kandungan gizi karena akan berpengaruh terhadap status gizinya. Status gizi balita secara umum dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi umur, keadaan infeksi, jenis kalamin, asupan makan, dan faktor eksternal meliputi pendapatan keluarga, pendidikan, pengetahuan, pekerjaan orang tua, jumlah anggota keluarga serta pola konsumsi pangan.

                 Hasil penelitian antara jenis pekerjaan dan alokasi waktu IRT di rumah secara tidak langsung memiliki hubungan dengan resiko terjadinya stunting,hal ini disebabkan Sikap dan perilaku ibu pada pemberian nutrisi kepada balita dipengaruhi oleh status pekerjaan ibu. Status pekerjaan ibu  sangat menentukan perilaku ibu dalam pemberian nutrisi kepada balita. Ibu yang bekerja berdampak pada rendahnya waktu kebersamaan ibu dengan anak sehingga asupan makan anak tidak terkontrol dengan baik dan juga perhatian ibu terhadap perkembangan anak menjadi berkurang. Dampak dari ibu bekerja juga tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan ibu. Ibu yang memiliki jenis pekerjaan berat maka akan mengalami kelelahan fisik, sehingga ibu akan cenderung memilih untuk beristirahat dari pada mengurus anaknya sehingga asupan anak tidak diperhatikan dan tidak bisa tercukupi dengan baik (Dyah, 2008).  Selain jenis pekerjaan mempengaruhi  stunting, alokasi waktu juga berpengaruh.tapi Penelitian menunjukkan bahwa alokasi waktu asuh ibu tidak berhubungan dengan pertumbuhan panjang badan anak. Hal yang lebih penting bukan lagi berapa lama ibu bersama-sama dengan anaknya setiap hari, namun pada intensitas ibu dan anak sewaktu mereka sedang bersama-sama. Ibu bekerja diluar rumah, jarak antara rumah dengan tempat kerja dan banyak faktor lain semuanya akan mempengaruhi susunan makan dan pola asuh terhadap anaknya. Sehingga ibu yang tidak bekerja akan mempunyai waktu yang lebih banyak dengan anaknya dan mempengaruhi peningkatan kualitas gizi anaknya (Sulastri, 2012).

 

D. DAFTAR PUSTAKA

Bur, T. N., Picauly, I., & Riwu, R. R. (2020). Faktor-Faktor Yang berhubungan Dengan Pola Konsumsi Pangan Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Oepoi Kota Kupang.Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/75/69

Mentari, S., & Hermansyah, A. (2018). Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Status Stunting Anak Usia 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja Upk Puskesmas Siantan Hulu.Sumber http://ejurnal.poltekkes-pontianak.ac.id/index.php/PNJ/article/ view/275/179

Nisak, N. Z. (2018). Hubungan Pekerjaan dan Pengetahuan Gizi Ibu Dengan Status Gizi Balita Desa Duwet Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten.Sumber: http://eprints.ums.ac.id/68587/12/naskah%20publikasi%20Nuruz.pdf

Nugroho, A. (2016). Determinan Growth Failure (Stunting) pada Anak Umur 1 S/D 3 Tahun (Studi di Kecamatan Tanjungkarang Barat Kota Bandar Lampung). Vol. 7 N0.3Sumber :https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/231

Nur, M. L., & Jutomo, L. (2020). Deteksi Dini Stunting Pada Jemaat Gmim Kapernaum Tenau.sumberhttps://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/73/67

Oematan, G., & Aspatria, U. (2013). faktor-Faktor Penentu Kejadian Gizi Buruk Stunting Di Daerah Dengan Karakteristik Pertanian Lahan Kering Kabupaten Kupang , Provinsi Nusa Tenggara Timur.sumberhttps://pergizipanganntt.id/ejpazih/index. php/filejurnal /article/view/88/80

Picauly, I. (2009). Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu Balita dengan Kebiasaan Konsumsi Sayur Balita Pada Kelompok Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja.Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/25

Picauly, I., & Toy, S. M. (2013). Analisis Determinan Dan Pengaruh stunting Terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah di Kupang Dan Sumba Timur, NTT. Jurnal Gizi Dan Pangan , 55-62, Vol 8.Sumberhttp://journal.ipb.ac.id/index.php /jgizipangan/ article/view/7254

Picauly, I., Mboeik, S. L., Lendes, T. S., & Hayer, S. (2020). Pendampingan Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Di Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sumber:https:// pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php /jpmkelaker/article/view/68

S, D., Dalle, Limbu, R., & Boeky, D. L. (2019). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu Oleh Ibu Di Wilayah Kerja Pusat Kesehata Masyarakat Takari Tahun 2019/2020.Sumber: https://pergizipanganntt.id/ ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/74

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALA HUBUNGAN FAKTOR PENDIDIKAN NORMAL DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING oleh Kelompok 1

HUBUNGAN FAKTOR RIWAYAT ATAU KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING oleh kel 11

Makalah Hubungan Faktor Budaya Makan (Pantangan makanan) dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kepulauan Lahan Kering oleh Kel 9