MAKALAH HUBUNGAN FAKTOR HIGIENE PERSONAL DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING oleh Kel 8
HUBUNGAN FAKTOR HIGIENE PERSONAL
DENGAN KEJADIAN STUNTING
DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING
Dosen MK : Dasar Ilmu Gizi
Kesmas : DR. Intje Picauly
Disusun Oleh : Kelas 2D
Kelompok 8
1.
Debby Milany
Misa (2007010159)
2.
Muhammad
Al Badar Adang (2007010108)
3.
Nevada
Alfa Adventica Radja (2007010110)
4.
Petrus Novaldi
Lasakar (2007010202)
5.
Wiwin Azariah
Fallo (2007010136)
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa senantiasa kita ucapkan. Atas
karunia-Nya berupa nikmat iman dan kesehatan ini akhirnya kami bisa
menyelesaikan makalah yang berjudul “Hubungan Faktor Higiene Personal dengan
Kejadian Stunting di Wilayah Kepulauan Lahan Kering”. Makalah ini disususn
untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Ilmu Gizi . Selain itu, kami juga
berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca. Kami mengucapkan
terima kasih sebesar besarnya kepada Ibu Intje Picauly yang telah memberikan
tugas untuk menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang ditekuni. Kami
meyakini dari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun akan kami terima.
Kupang, 1 Februari 2020
Tim Kelompok
8
|
DAFTAR
ISI Kata Pengantar |
ii |
|
Daftar Isi |
iii |
|
A.Batasan Istilah Menurut Pakar 1.1 Istilah/ Pengertian Stunting |
1 |
|
1.2 Higiene Personal |
1 |
|
1.3 Kepulauan Lahan
Kering |
2 |
|
B. Review Jurnal Hasil Penelitian Terdahulu |
2 |
|
C. Pembahasan |
5 |
|
Daftar Pustaka |
6 |
A. A. Batasan Istilah Menurut Pakar
1.1. Istilah/Pengertian Stunting
Berikut
beberapa definisi dan pengertian Stunting menurut para Ahli/Pakar :
ü Menurut
Trihono dkk (2015), Stunting adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
BB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak, hasil
pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai dengan
-3 SD (pendek/stunted) dan <-3 SD (sangat pendek/severely stunted).
ü Menurut
Millennium Challenge Account (2014), stunting adalah masalah kurang gizi kronis
yang disebabkan oleh asupan zat gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat
pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
ü Menurut WHO
(2006), Stunting adalah gangguan pertumbuhan ditinjau berdasarkan parameter
antropometri tinggi badan menurut umur merupakan bagian dari kekurangan gizi
maupun infeksi kronis yang ditunjukkan dengan z-score <-2 standar
deviasi.
ü Menurut
UNICEF (2013), Stunting adalah indicator status gizi TB/U sama dengan atau
kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) di bawah rata-rata standar atau
keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain
seumurnya, ini merupakan indikator kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis
yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi lingkungan
dan sosial ekonomi.
ü Menurut
Kemenkes RI (2016), Stunting adalah status gizi yang didasarkan pada parameter
Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), hasil
pengukuran antropometri berdasarkan parameter tersebut dibandingkan dengan standar
baku WHO untuk menentukan anak tergolong pendek (<-2 SD) atau sangat pendek
(<-3 SD).
1.2 Istilah
atau Pengertian Higiene Personal
Berikut ini beberapa definisi dan pengertian
Personal Hygiene menurut para Ahli/Pakar :
ü Menurut Tarwoto
dan Wartonah (2010), personal hygiene berasal dari bahasa
Yunani, personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan
perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan
seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.
ü Menurut Potter dan Perry
(2005), personal hygiene adalah suatu
tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana
seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya.
ü Menurut Hidayat (2008), personal hygiene adalah cara perawatan diri
manusia untuk memelihara kesehatan mereka secara fisik dan psikisnya. Dalam
kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus
diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis
seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan
kebiasaan. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang
diperhatikan, hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah
masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi
kesehatan secara umum.
1.3 Istilah
atau Pengertian Kepulauan Lahan Kering
Lahan kering di Nusa Tenggara
Timur (NTT) mempunyai potensi yang lebih besar dibandingkan
lahan sawah karena peluang pengembangan lahan kering sangat terbuka untuk mengembangkan berbagai komoditas unggulan lahan
kering. Gambaran ini memberikan arti bahwa lahan kering di NTT merupakan sumber
mata pencaharian penting bagi sebagian besar penduduk di wilayah ini. Berikut
adalah beberapa definisi dari para ahli/Pakar tentang Kepulauan Lahan Kering :
ü Undang-undang Nomor 6
Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia, yang dimaksud dengan Kepulauan adalah
suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau, dan perairan di antara pulau-pulau
tersebut, dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian
eratnya sehingga pulau-pulau, perairan, dan wujud alamiah lainnya itu merupakan
satu kesatuan geografi, ekonomi, pertahanan keamanan, dan politik yang hakiki,
atau yang secara historis dianggap sebagai demikian.
ü Soil
Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan
yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar
waktu dalam setahun.
ü Menurut Simposium Nasional
tentang Lahan Kering di Malang (1991) penggunaan lahan untuk lahan kering
berturut adalah sebagai berikut: hutan rakyat, perkebunan, tegalan, tanah yang
sedang tidak diusahakan, ladang dan padang rumput.
A. Riview
Hasil Penelitian Terdahulu
Beberapa hasil penelitian
terkait yang telah dilakukan sebelumnya adalah :
1. Oematan,
G., & Aspatria, U. 2013. Faktor-faktor Penentu Kejadian Gizi Buruk Stunting
Di Daerah Dengan Karakteristik Pertanian Lahan Kering Kabupaten Kupang Nusa
Tenggara Timur. Hasil yang diperoleh :
Di antara 9 faktor yang diduga
sebagai penyebab gizi buruk stunting . 5 faktor di antaranya merupakan faktor
penentu kejadian gizi buruk di desa Hueknutu pada taraf signifikasi sebesar
10%, yaitu kontinyuitas ketersediaan
pangan rumahtangga (OR = 23,9), riwayat kelahiran BBLR (OR = 7,8), riwayat
sakit (OR= 4,5), pemberian ASI hingga 2 tahun (OR = 4,4), dan tingkat
pengetahuan gizi ibu (OR = 4,2). Sumber :
https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/88/80
2. Ratu, M., Picauly, I., & Landi, S.2020. Hubungan
Pengetahuan Ibu Tentang Gizi, Riwayat Penyakit Infeksi Dan Personal Hygien
Dengan Pola Konsumsi Ibu Hamil Di Daerah Lokus Stunting Kabupaten Timor Tengah
Utara. Hasil yang diperoleh : Ada
hubungan antara personal hygiene dengan pola konsumsi ibu hamil ( Bumil) di
Daerah Lokus Stunting Kabupaten Timor Tengah Utara. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/76
3. Gaspersz,
E. ., Picauly, I., & Sinaga , M. 2020. Hubungan Faktor Pola Konsumsi, Riwayat Penyakit Infeksi, Dan Personal Hygiene
Dengan Status Gizi Ibu Hamil Di Wilayah Lokus Stunting Kabupaten Timor Tengah
Utara. Hasil yang diperoleh : Ada
hubungan antara faktor personal hygiene dengan status gizi ibu hamil di wilayah
lokus stunting Kabupaten Timor Tengah Utara. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/77/71
4. Deviarbi
Sakke Tira, Anna H. Talahatu, & Fransiskus G. Mado. 2020. Penyuluhan
Tentang Personal Higiene SebagaiI Upaya Pencegahan Penyakit Diare Dan Kecacingan
DI Sekolah Dasar Inpres Tuadale Kecamatan Kupang Barat. Hasil yang diperoleh : Upaya perubahan perilaku, terkhususnya
perubahan pengetahuan dan sikap mengenai hygiene perorangan pada siswa sekolah
dilakukan di SDInpres Tuadale Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang. Kegiatan
berupa pemberian penyuluhankesehatan.Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index .php/jpmkelaker/article/view/69/64
5. Erni Erawati Pua
Upa, & Mustakim Sahdan. 2020. Kebersihan Diri Dan Lingkungan Dalam Upaya
Pencegahan Penyakit Dan Meningkatkan Prestasi Belajar Anak Kelas Enam SD Inpres
Taudale Kabupaten Kupang. Hasil yang
diperoleh : Kebersihan adalah keadaan bebas dari kotoran, termasuk
diantaranya debu, sampah dan bau. Dalam lingkungan sekolah kebersihan diri anak
sekolah dan kebersihan lingkungan sekolah perlu menjadi fokus perhatian pihak
manajemen sekolah. Sumber : https://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/7254/5665
6. Picauly, I., & Toy, S. M. 2013.
Analisis Determinan Dan Pengaruh Stunting Terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah Di Kupang Dan Sumba
Timur, NTT. Hasil
yang diperoleh : Determinan kejadian stunting adalah pendapatan keluarga,
pengetahuan gizi ibu, pola asuh ibu, riwayat
infeksi penyakit, riwayat imunisasi, asupan protein, dan pendidikan ibu. Sumber: https://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/7254/566
7. Zairinayati, Purnama Rio.2019. Hubungan
Higiene Dan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita. Hasil yang diperoleh : Anak yang menderita stunting di wilayah
Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Banyuasin Tahun 2017 sebesar 43, 3% berada pada
rentang umur 3,2 – 3,9 tahun, 73,3% memiliki berat badan 9-15 kg, berada pada
keluarga yang memilki pendapatan
rendah (kurang dari juta/bulan) sebesar 97%, orang tua yang tidak bekerja sebesar 43,3%, tingkat pendidikan orang tua
53,3% hanya tamat SD, mengalami
penyakit infeksi diare sebesar 76,7% sementara angka kejadian kecacingan
relatif kecil yaitu 6,7% . Sumber :
https://jurnal.stikesaisyiyahpalembang.ac.id/index.php/Kep/article/viewFile/186/165
8. Re Dewi Ngaisyah1, Siti Aisah 2 , Merita Eka
Rahmuniyati 3. 2019. Personal Hygiene And Environment Sanitation Related With
Stunting At Wurkisari Village
Cangringan Sub-Disrtrict. Hasil yang
diperoleh : Responden dengan praktik personal hygienenya yang kurang baik
terdapat sejumlah 42 responden (46,7%).
Ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian stunting pada
balita di Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan. Sumber : http://prosiding.respati.ac.id/index.php/PSN/article/viewFile/182/176
9. Marselinus Laga Nur, & Lewi Jutomo. 2020. Deteksi
Dini Stunting Pada Jemaat GMIM Kapernaum Tenau. Hasil yang diperoleh : Dari hasil evaluasi diketahui terdapat
peningkatan jumlah peserta yang mengetahui
dan memahami beberapa hal yang terkait dengan stunting yaitu, hubungan zat gizi
dengan stunting, penyebab, dampak dan pencegahan dari stunting. Selain itu bagi
para pelayan telah memiliki keterampilan antropometri dan mengolah bahan pangan lokal bergizi, yang nanti keterampilan tersebut diharapkan dapat berguna untuk
deteksi dini dan sekaligus pencegahan stunting. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/73/67
C. PEMBAHASAN
Ada hubungan antara perilaku hygiene dengan kejadian stunting pada
balita 12-59 bulan di wilayah kepulauan lahan kering bahwa perilaku higiene
buruk berisiko menjadi stunting. Yang mana pada perilaku hygiene yang kurang
sesuai seperti tidak mencuci tangan hingga bersih setiap kali makan, kurangnya
menjaga kebersihan tubuh seperti mandi dan mengosok gigih, tidak menjaga
kebersihan bahan makanan dan juga makanan
yang diolah dan juga tidak menjaga kebersihan semua
peralatan memasak dan wadah makanan dapat menyebabkan infeksi disertai gangguan
seperti nafsu makan berkurang dan muntah-muntah. Kondisi ini dapat menurunkan
keadaan gizi balita dan berimplikasi buruk terhadap kemajuan pertumbuhan anak (stunting).
Orangtua terutama ibu diharapkan
lebih memelihara perilaku hygiene
pada balita. Kebiasaan mencuci tangan dan menyikat gigi dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Hygiene personal juga
perlu diterapkan pada ibu hamil
sangat dibutuhkan agar bayi yang dikandungnya terlahir sehat dan ibu sendiri
terjaga kesehatannya. Penyakit infeksi
yang terjadi pada ibu hamil dapat disebabkan oleh bakteri, parasit ataupun
jamur.Hal penelitian menunjukkan bahwa responden lebih banyak mempunyai
kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan jarang menggunakan
sendok untuk makan. Hal ini tentulah
dapat menyebabkan terjadinya penyakit infeksi seperti diare yang juga dapat mempengaruhi status gizi. Dan berakibat pada bayi yang
dikandung , dimana ketika dilahirkan mengalami kekurangan gizi yang berpengaruh
pada pertumbuhan anak (stunting).
Pemeliharaan personal
hygiene diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Seperti
pada orang sehat mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, pada orang sakit atau
tantangan fisik memerlukan bantuan perawat untuk melakukan praktik kesehatan
rutin. Tujuan dilakukannya personal hygiene adalah peningkatan derajat
kesehatan, memelihara kesehatan diri, memperbaiki personal hygiene, mencegah
penyakit, meningkatkan kepercayaan diri dan menciptakan keindahan.
Dampak yang sering timbul
pada masalah personal hygiene menurut Ambarawati dan Sunarsih, (2011) adalah
sebagai berikut: (1) Dampak fisik, banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang
karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik
yang terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut,
infeksi pada mata dan telinga serta gangguan fisik pada kuku. (2) Masalah
psikososial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan
rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.
D.DAFTAR PUSTAKA
Oematan, G., & Aspatria,
U. 2013. Faktor-faktor Penentu Kejadian Gizi Buruk Stunting Di Daerah Dengan Karakteristik
Pertanian Lahan Kering Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/88/80
Ratu, M., Picauly, I., &
Landi, S.2020. Hubungan Pengetahuan
Ibu Tentang Gizi, Riwayat Penyakit Infeksi
Dan Personal Hygien Dengan Pola
Konsumsi Ibu Hamil Di Daerah Lokus Stunting Kabupaten Timor Tengah Utara. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/76
Gaspersz, E.
., Picauly, I., & Sinaga , M. 2020. Hubungan Faktor Pola Konsumsi, Riwayat Penyakit
Infeksi, Dan Personal Hygiene Dengan Status Gizi Ibu Hamil Di Wilayah Lokus Stunting Kabupaten Timor
Tengah Utara. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/77/71
Deviarbi Sakke
Tira, Anna H. Talahatu, & Fransiskus G. Mado. 2020. Penyuluhan Tentang
Personal Higiene SebagaiI Upaya Pencegahan Penyakit Diare Dan Kecacingan DI
Sekolah Dasar Inpres Tuadale Kecamatan Kupang Barat. Sumber: https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/69/64
Erny Erawati Pua Upa, & Mustakim Sahdan. 2020. Kebersihan Diri Dan Lingkungan Dalam Upaya Pencegahan
Penyakit Dan Meningkatkan Prestasi Belajar Anak Kelas Enam SD Inpres Taudale
Kabupaten Kupang. Sumber : https://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/7254/5665
Picauly, I., & Toy, S.
M. 2013. Analisis
Determinan Dan Pengaruh Stunting Terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah Di Kupang Dan Sumba Timur,
NTT. Sumber: https://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/7254/566
Zairinayati, Purnama Rio.2019. Hubungan Higiene Dan Sanitasi Lingkungan Dengan
Kejadian Stunting Pada Balita. Sumber : https://jurnal.stikesaisyiyahpalembang.ac.id/index.php/Kep/article/viewFile/186/165
Re Dewi Ngaisyah1, Siti
Aisah 2 , Merita Eka Rahmuniyati 3. 2019. Personal Hygiene And Environment
Sanitation Related With Stunting At Wurkisari
Village Cangringan Sub-Disrtrict. Sumber : http://prosiding.respati.ac.id/index.php/PSN/article/viewFile/182/176
Marselinus Laga Nur, & Lewi Jutomo. 2020.
Deteksi Dini Stunting Pada Jemaat GMIM Kapernaum Tenau. Sumber : https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/73/67
Herawati1*,
Andi Anwar2, Dina Lusiana
Setyowati3.2019. Hubungan Sarana Sanitasi, Perilaku Penghuni, dan Kebiasaan
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) oleh Ibu dengan Kejadian Pendek (Stunting) pada
Batita Usia 6-24 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Harapan Baru, Samarinda. Sumber
: http://ejournal.undip.ac.id/
https://www.kajianpustaka.com/2019/08/pengertian-penyebab-dan-pencegahan-stunting.html?m=1

Komentar
Posting Komentar