HUBUNGAN FAKTOR MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN KERING oleh kel 10
HUBUNGAN FAKTOR
MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KEPULAUAN LAHAN
KERING
Dosen MK. Dasar Ilmu
Gizi : DR. Intje Picauly
Disusun oleh :
Kelompok 10
1. Niniek Windarti Anin (2007010198)
2. Yopy Ratulolo ( 2007010045 )
3. Theodoksia Roswita Uta Ae ( 2007010209 )
4. Morla Marella Raissa Sayang Manao ( 2007010194 )
5. Sindi Sirituka ( 2007010222
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2021
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan
penyertaan-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Hubungan
Faktor Makanan Pendamping ASI dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kepulauan
Lahan Kering” ini tepat pada waktunya. Tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Ilmu Gizi. Ucapan terima kasih kami
sampaikan kepada Ibu Intje Picauly selaku Dosen Mata kuliah yang sudah
memberikan tugas ini. sebagai manusia kami menyadari bahwa kesempurnaan hanya
milik Tuhan. Oleh karena itu, segala kritik yang membangun kami terima demi
perkembangan pola pikir kita. Harapannya semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat yang positif bagi pembaca.
Kupang, 2 Februari
2021
Kelompok 10
Daftar Isi
Kata
Pengantar ................................................................................................................... i
Daftar isi............................................................................................................................... ii
A. Batasan Istilah Menurut Pakar
1.
Pengertian
Stunting........................................................................................... 1
2.
Makanan
Pendamping ASI.............................................................................. 2
3. Pengertian Kepulauan Lahan Kering............................................................. 3
B. Review Hasil Penelitian Terdahulu........................................................................ 6
C. Pembahasan............................................................................................................. 8
D. Daftar pustaka......................................................................................................... 9
A. Batasan Istilah Menurut Pakar
1.1
Istilah/ Pengertian Stunting
Stunting
adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (Bayi dibawah lima tahun) yang
diakibatkan kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah
bayi lahir akan tetapi, kondisi Stunting baru nampak setelah bayi berusia 2
tahun. Stunting yang dialami anak dapat disebabkan oleh tidak terpaparnya
periode 1000 hari pertama kehidupan mendapat perhatian khusus karena menjadi
penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di
masa depan.
Berikut
ini beberapa Definisi dan pengertian Stunting menurut para ahli/ pakar :
Ø Menurut
Millennium Challenge Account (2014), stunting adalah masalah kurang gizi kronis
yang disebabkan oleh asupan zat gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat
pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Ø Menurut
Trihono dkk (2015), Stunting adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
BB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak,
hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai
dengan -3 SD (pendek/stunted) dan <-3 SD (sangat pendek/severely stunted).
Ø Menurut
UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59
bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga
(stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.
Ø Menurut
Eko (2018), didalam buku saku desa penanganan stunting. Stunting adalah kondisi
gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak
terlalu pendek untuk usianya. Stunting disebabkan oleh Faktor Multi Dimensi.
Intervensi paling menentukan pada 1.000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan).
1.2 Istilah/Pengertian Makanan Pendamping ASI
Makanan Pendamping Air
Susu Ibu merupakan makanan tambahan yang mudah dikonsumsi yang diberikan pada
bayi selain ASI ketika ASI tidak dapat mencukupi nutrisi anak untuk tumbuh
kembang optimal, biasanya diberikan pada umur 4 dan 6 bulan hingga berumur 2
tahun. Berikut Beberapa definisi tentang Makanan pendamping ASI :
Ø WHO
(Asosiasi Dietisien Indonesia, 2014) Menyatakan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
adalah makanan atau minuman selain ASI yang mengandung zat gizi yang diberikan
kepada bayi selama periode penyapihan (complementary feeding) yaitu pada saat
makanan/minuman lain diberikan bersama pemberian ASI.
Ø Menurut
organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), makanan pendamping
air susu ibu (MPASI) merupakan sebuah proses penting yang mengedepankan kesiapan
bayi dalam menyambut makanan yang akan dikonsumsinya.
Ø Menurut
Soenardi ( 2000 ), makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada
bayi guna memenuhi kebutuhan bayi atau anak dalam melengkapi ASI dan biasanya
diberikan pada bayi berusia 6 – 12 bulan.
Ø Menurut
Anwar ( 2000 ), makanan pendamping ASI merupakan makanan yang diberikan pada
bayi mulai umur 6 bulan guna pemenuhan energi dan zat gizi lain yang tidak
dicukupi oleh ASI.
Berdasarkan
pengertian – pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa makanan pendamping ASI
merupakan makanan yang diberikan pada bayi usia 6 – 12 bulan sebagai pendamping
ASI guna memenuhi kebutuhan bayi yang tidak di cukupi oleh ASI.
1.3 Istilah/ Pengertian
Kepulauan Lahan Kering
Kepulauan Lahan Kering
merupakan budidaya tanaman pertanian di lahan yang kurang air dan tanah yang
kurang subur. Lahan kering ini terjadi sebagai akibat dari curah hujan yang
sangat rendah, sehingga keberadaan air sangat terbatas, suhu udara tinggi dan
kelembabannya rendah.
Nusa Tenggara Timur
(NTT) merupakan salah
satu provinsi yang
berada di Indonesia Bagian
Timur. Badan Pusat
Statistik (BPS) provinsi
NTT pada Bulan Desember 2014
(BPS NTT. (2014)
diakses dari ntt.bps.go.id) melaporkan
jumlah penduduk sampai Tahun
2013 berjumlah 4.953.967
orang. Sebagian besar penduduk mempunyai mata pencaharian di
bidang pertanian. Berikut adalah
beberapa definisi dari para ahli/pakar tentang kepulauan lahan kering :
Ø Menurut
Hidayat dkk (2000) lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah
digenangi air atau tergenang air pada sebagian waktu selama setahun.
Ø Definisi yang diberikan oleh soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Tipologi lahan ini dapat dijumpai dari dataran rendah (0-700 m dpl) hingga dataran tinggi (> 700m dpl).
.C.Review Hasil Penelitian Terdahulu
Beberapa Hasil Penelitian terkait
yang telah dilakukan sebelumnya adalah :
1. Demsi
S. Dalle, Ribka Limbu, Daniela L.A. Boeky. 2019 Faktor - faktor yang
berhubungan dengan pemberian makanan
pendamping Air Susu Ibu oleh ibu di wilayah kerja pusat Kesehatan
masyarakat Takari.
Hasil Yang diperoleh : Hasil
penelitian menunjukkan, tingkat pengetahuan ibu baik sebanyak 24 (40%), ibu
yang berumur muda sebanyak 31 (51,7%), ibu yang berpendidikan dasar sebanyak 31
(51,7%), ibu yang bekerja sebanyak 31 (51,7%), ibu yang berpendapatan rendah
sebanyak 38 (63,3%), ibu yang
mendapatkan informasi tentang MP-ASI sebanyak 34 (56,7%) dan ibu yang
memberikan MP-ASI sebanyak 37 (61,7%).
Sumber :https://doi.org/10.51556/ejpazih.v9i2.74
2. Gustaf Oematan, UtmaAspatria. Faktor –Faktor Penentu Kejadian Gizi Buruk Stunting Di Daerah Dengan Karakteristik Pertanian Lahan Kering Kabupaten Kupang , Provinsi Nusa Tenggara Timur/2013.
Hasil yang diperoleh :
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari Sembilan faktor penduga kejadian gizi
buruk, ternyata 5 faktor diantaranya merupakan faktor penentu kejadian gizi
buruk di Desa Hueknutu pada taraf signifikansi 10% yaitu kelangsungan
ketersediaan pangan rumah tangga (OR = 23.9), riwayat lahir BBLR (OR = 7,8),
riwayat sakit (OR = 4,5), pemberian ASI sampai 2 tahun (OR = 4,4), dan tingkat
pengetahuan gizi ibu (OR = 4.2) .
3. Anastasia
T Astuti, UtmaAspatria, Lewi Jutomo. Kajian tingkat pengetahuan Ibu Tentang ASI
dan POLA LAKTASI pada BAYI DI Kelurahan Sikumana.
Hasil
Yang diperoleh : pola menyusui menunjukkan hanya 2,94%
menyusui balita> 20 menit dan menyusui bayi ≥ 12x / hari, 67,65% memberikan
ASI eksklusif, 88,24% menyusui dengan posisi duduk, 2,94% menyusui dengan cara
duduk. menggunakan dot / kaca. Statistik kesehatan menunjukkan 7,35% ibu
mengalami gangguan kesehatan selama sebulan terakhir dan 7,35% bayi gizi buruk.
Sumber
:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/83
4. Nomavindel
Leu Tatuin, Honey I Ndoen, Maria M Dwi Wahyuni. Hubungan Faktor Internal dengan
Pemberian MP-ASI Dini pada Bayi Usia 0-6 bulan di wilayah Kerja Puskesmas Tarus
tahun 2018.
Hasil
Yang diperoleh : Hasil uji statistik menggunakan uji
chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan faktor internal yang meliputi
pendidikan (ρ value= 0,002), pengetahuan (ρ value= 0,005), dan pendapatan keluarga
(ρ value= 0,035) dengan pemberian MP-ASI dini sedangkan faktor internal yang
meliputi usia (ρ value= 0,547), pekerjaan (ρ value= 0,570), dan status gizi ibu
(ρ value= 1,000) tidak berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini.
Sumber
:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v8i1.19
5. Agnes
Graciella Maria Vitadini Gili Tewe, Su Djie To Rante, Debora Shinta Liana.
Hubungan antara pengetahuan ibu tentang MP-ASI dengan status Gizi Balita di
wilayah kerja Puskesmas Naibonat.
Hasil
yang diperoleh : dari penelitian ini berdasarkan skor
pengetahuan ibu tentang MP-ASI, 64, 83%(59 orang) adalah ibu dengan skor
pengetahuan kurang, sedangkan berdasarkan status gizi balita, 58, 24%(53 orang)
memiliki status gizi baik.
Sumber:http://ejurnal.undana.ac.id/CMJ/article/view/1790
6. Laela Anjarsari, Zubaidah Zubaidah. Hubungan
Dukungan Keluarga terhadap ASI Ekslusif dengan Pemberian MP-ASI pada Ibu
Bekerja di Desa Rembes Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang tahun 2017.
Hasil
Yang Diperoleh : penelitian ini menunjukkan bahwa 61,7 %
responden mendapatkan dukungan keluarga terhadap ASI ekslusif kurang dan 55,3 %
MP-ASI diberikan pada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan. Hasil uji korelasi
Chi-Square di dapatkan p value 0,000 (p < 0,005) yang berarti terdapat
hubungan dukungan keluarga terhadap ASI ekslusif dengan pemberian MP-ASI pada
ibu bekerja di Desa Rembes Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang. Dukungan
keluarga terhadap ASI ekslusif sangat penting untuk menurunkan kejadian
pemberian MP-ASI dini. Disarankan bagi responden meluangkan waktunya untuk
memerah ASI di tempat kerja atau di rumah, sehingga ibu bekerja tetap dapat
memberikan ASI ekslusif.
7. Maria
Ratu, Intje Picauly, Soleman Landi. Hubungan pengetahuan Ibu tentang Gizi,
Riwayat penyakit Infeksi dan personal Hygiene dengan pola konsumsi Ibu Hamil di
daerah Lokus Stunting Kabupaten Timor Tengah Utara.
Hasil Yang di Peroleh : Profil
responden berdasarkan faktor – faktor yang berhubungan dengan pola konsumsi
pangan anak balita. Pengetahuan, Usia ibu, tingkat pendidikan formal, pekerjaan
ibu, pendapatan, dan keterpaparan terhadap informasi merupakan sejumlah faktor
yang telah diteliti dan diketahui dapat berpengaruh terhadap pola konsumsi
pangan keluarga dan anggota keluarganya. Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian
besar (73,33%) responden mempunyai jumlah anggota kurang dari empat (4) orang
dengan rerata tingkat pendapatan kurang
dari Rp. 1.010.000/bulan. Sekitar 60% ibu hamil berusia 18-30 tahun dengan
tingkat pendidikan tertinggi pada kelompok “Rendah” atau tidak dan tamat
sekolah dasar (51.10%) dan sebagian besar memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah
tangga (91.1%). Ibu hamil sampel mempunyai umur kehamilan atau berada pada
trimester 2 sebanyak 41.4%.
Sumber
:https://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/filejurnal/article/view/76
8. Marselinus
Laga Nur, dan Lewi Jutomo.DETEKSI DINI STUNTING PADA JEMAAT GMIM KAPERNAUM
TENAU Tahun 2015
Hasil
Yang di peroleh : hasil yang dicapai adalah peningkatan jumlah
peserta yang mengetahui
dan memahami beberapa hal
yang terkait dengan stunting yaitu,
hubungan zat gizi
dengan stunting, penyebab,
dampak dan pencegahan
dari stunting. Selain itu
bagi para pelayan
telah memiliki keterampilan
antropometri dan mengolah bahan pangan
lokal bergizi, yang
nanti keterampilan tersebut
diharapkan dapat berguna
untuk deteksi dini dan sekaligus pencegahan stunting.
Sumber
:http://pergizipanganntt.id/ejpazih/index.php/jpmkelaker/article/view/73
9. Theresia
Noviayanti Bur, Intje Picauly, Rut Rosina Riwu. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
DENGAN POLA KONSUMSI PANGAN BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OEPOI KOTA
KUPANG.
Hasil
yang diperoleh :Hasil analisis sevara bivariat dan
multivariat menunjukan bahwa variabel pengetahuan gizi ibu (pValue : 0.004 <
0.05),Tingkat pendapatan keluarga (pValue : 0.000<0.05), dan jumlah anggota
keluarga (pValue : 0.000<0.05) berhubungan dengan pola konsumsi pangan
balita di Wilayah Kerja Puskesmas Oepoi.
Sumber
:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v9i2.75
10. Anita
Bili, Lewi Jutomo, Daniela L. A. Boeky. Faktor Risiko Kejadian Gizi Kurang pada
Anak Balita di Puskesmas Palla Kabupaten Sumba Barat Daya.
Hasil
Yang diperoleh : Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penyakit infeksi (OR = 2.590), pengetahuan ibu terkait gizi (OR = 2.615),
konsumsi energi (OR = 2.067) dan protein (OR = 2.254) merupakan faktor risiko
terjadinya gizi buruk pada balita. Dapat disimpulkan bahwa penyakit infeksi,
pengetahuan ibu tentang gizi, konsumsi energi dan protein memiliki peran
penting sebagai faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
Sumber
:https://dx.doi.org/10.35508/mkm.v2i2.2929
11. Demsi
S. Dalle, Ribka Limbu, Daniela L.A. Boeky.FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AISUSU IBU OLEH IBU DI WILAYAH KERJA PUSAT
KESEHATAN MASYARAKAT TAKARI TAHUN 2019.
Hasil
yang diperoleh : Berdasarkan analisis data didapatkan hasil
bahwa variabel yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI oleh ibu adalah
pengetahuan ibu (p=0,003), pendidikan ibu (p=0,021), pekerjaan ibu (p=0,009),
tingkat pendapatan ibu (p=0,015) dan keterpaparan informasi ibu (p =0,031).
Sedangkan variabel yang tidak ada hubungan dengan pembrian MP-ASI oleh ibu
adalah umur ibu (p=0,098). Melalui telaah pustaka dengan melihat kembali
peneliti terdahulu, secara teori dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara
variabel pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan dan
keterpaparan informasi dengan pemberian MP- ASI oleh ibu di Wilayah Kerja
Puskesmas Takari Tahun 2019.
Sumber
:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v9i2.74
C. PEMBAHASAN
Makanan
pendamping ASI (MP-ASI) yaitu makanan atau minuman yang mengandung gizi dan protein yang diberikan
pada anak usia 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Peran pemberian MP-ASI
sama sekali bukan untuk mengganti ASI eksklusif melainkan hanya untuk
melengkapi ASI. Pengenalan MP-ASI harus secara bertahap baik porsi, jenis,
frekuensi dan bentuk sehingga anak dapat mencerna makanan sesuai dengan usia
dan kemampuannya. Stunting
pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari
kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya.
Gustaf
Oematan dan Utma Aspatria melalui penelitiannya mengenai faktor-faktor penentu
kejadian stunting di Kabupaten Kupang menyatakan bahwa Faktor pemberian ASI
hingga usia 2 tahun merupakan faktor penentu selanjutnya terhadap kejadian
stunting pada balita. Balita yang tidak diberikan ASI hingga usia 2 tahun
memiliki peluang resiko mengalami stunting sebesar 4,4 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan balita yang diberikan ASI hingga usia 2 tahun. Ini berarti
pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini akan mengakibatkan kondisi
kejadian stunting.
Terdapat
hubungan antara pemberian makanan
pendamping asi dengan kejadian faktor di kepulauan lahan kering. Dimana
Pemberian MP ASI dini mengakibatkan ibu tidak berusaha memberikan ASI dan
menyebabkan terjadinya penyakit infeksi yang mengakibatkan stunting pada
balita. Status gizi buruk pada ibu hamil dan bayi merupakan faktor yang menyebabkan anak balita mengalami
stunting. selain itu penelitian juga
menyatakan bahwa kurangnya pengetahuan dan rendahnya pendidikan seorang Ibu
menduduki urutan pertama penyebab
seorang anak dapat mengalami kondisi stunting. Sedangkan variabel yang
lain seperti pekerjaan, tidak
berhubungan dengan kejadian stunting. Yang mana umur menduduki urutan pertama
sebagai variabel yang tidak ada hubungannya dengan stunting di setiap
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Dalle
Demsi S, Limbu Ribka, Boeky Daniela L: 2020. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR
SUSU IBU OLEH IBU DI WILAYAH KERJA PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT TAKARI TAHUN 2019:
Jurnal Pangan Gizi dan Kesehatan. Volume. 9 No. 2 (2020). Sumber:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v9i2.74
Oematan
Gustaf, Aspatria Utma: 2013. FAKTOR–FAKTOR
PENENTU KEJADIAN GIZI BURUK STUNTING DI DAERAH DENGAN KARAKTERISTIK PERTANIAN
LAHAN KERING KABUPATEN KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Jurnal Pergizi
Pangan dan Kesehatan. Vol.5 No.1 (2013). Sumber:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v5i1.88
Astuti
Anastasia T, Aspatria Utma, Jutomo Lewi: 2013. KAJIAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI DAN POLA LAKTASI PADA BAYI
DI KELURAHAN SIKUMANA. Jurnal Pangan dan Gizi Kesehatan. Volume.5 No. 1
(2013). Sumber:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v5i1.83
Tatuin
Nomavindel Leu, Ndoen Honey I, Wahyuni Dwi: 2019. HUBUNGAN FAKTOR INTERNAL DENGAN PEMBERIAN MP-ASI DINI PADA BAYI USIA
0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TARUS TAHUN 2018. Jurnal Pangan Gizi
dan Kesehatan. Vol. 8 No. 1 (2019).
Sumber :https://doi.org/10.51556/ejpazih.v8i1.19
Agnes
Graciella Maria Vitadini Gili Tewe dkk. 2019. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG MP-ASI DENGAN STATUS GIZI
BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NAIBONAT. Cendana Medical Jurnal. Vol. 7
No. 2 (2019). Sumber:http://ejurnal.undana.ac.id/CMJ/article/view/1790
Zubaidah,
Anjarsari Laela: 2017. Hubungan Dukungan
Keluarga terhadap ASI Ekslusif dengan Pemberian MP-ASI pada Ibu Bekerja di Desa
Rembes Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang.
Sumber:https://scholar.google.com/scholar?cluster=12488468756088619517&hl=id&as_sdt=2005&sciodt=0,5
Ratu
Maria, Picauly Intje, Landi Soleman: 2020. HUBUNGAN
PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI, RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DAN PERSONAL HYGIENE
DENGAN POLA KONSUMSI IBU HAMIL DI DAERAH LOKUS STUNTING KABUPATEN TIMOR TENGAH
UTARA. Jurnal Pangan dan Gizi Kesehatan. Vol.9 No. 2 (2020). Sumber:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v9i2.76
Nur Marselinus Laga, Jutomo Lewi: 2020.
DETEKSI DINI STUNTING PADA JEMAAT GMIM KAPERNAUM TENAU. Jurnal Pangan dan
Gizi Kesehatan. Vol. 1 No. 2 (2020). Sumber:https://doi.org/10.51556/jpkmkelaker.v1i2.73
Bur
Theresia Noviayanti, Picauly Intje, Riwu Rut Rosina: 2020. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN POLA KONSUMSI PANGAN BALITA DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS OEPOI KOTA KUPANG. Jurnal Pangan dan Gizi
Kesehatan. Vol. 9 No 2. (2020).
Sumber:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v9i2.75
Bili
Anita, Jutomo Lewi, Boeky Daniela L: 2020. Faktor
Risiko Kejadian Gizi Kurang pada Anak Balita di Puskesmas Palla Kabupaten Sumba
Barat Daya. Media Kesehatan Masyarakat. Vol.2 No.2 (2020).
Sumber:https://doi.org/10.35508/mkm.v2i2.2929
Dalle
S Demsi, Limbu Ribka, Boeky Daniela L:
2020. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
DENGAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU OLEH IBU DI WILAYAH KERJA
PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT TAKARI TAHUN 2019. Jurnal Pangan dan Gizi
Kesehatan. Vol. 9 No.2 (2020). Sumber:https://doi.org/10.51556/ejpazih.v9i2.74
Eko
Setiawan, Rizanda Machmud, Masrul Masrul.Faktor-Faktor
yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Andalas Kecamatan Padang Timur Kota Padang Tahun 2018.
Sumber : http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/813
Afiska
Prima Dewi, Tri Novi Ariski, Desi Kumalasari.Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita
24–36 Bulan di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Gadingrejo Kabupaten Pringsewu.
Sumber :https://wellness.journalpress.id/wellness/article/view/38
Sri
Hapsari SP, Peran modul MP-ASI dalam
perilaku pemberian MP-ASI pada ibu anak bawah dua tahun (BADUTA).Sumber :https://www.researchgate.net/deref/http%3A%2F%2Fdx.doi.org%2F10.14710%2Fjgi.5.1.26-33
Niks Yuliandari, 2018. Makanan Pendamping Asi.
Sumber
:http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/
Ivanka
Azhari, BUDAYA LAHAN KERING KEPULAUAN DAN
PARIWISATA. Sumber: https://id.scribd.com/document/394360671/BUDAYA-LAHAN-KERING-KEPULAUAN-DAN-PARIWISATA-pdf

Komentar
Posting Komentar